(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Saturday, December 10, 2011

Cerpen : Menghampiri kematianku

Oleh : Erato Dido Evandra


Kupersembahkan untuk :
Bagi siapapun yang dihadapkan pada kematian, tenanglah Tuhan mengasihi anda!
--------------------------------------------------

Saat memandang langit yang begitu luas dan membiru, serta kulihat pepohonan yang melambaikan tangan-tanganya yang membuatnya seakan hidup, aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”.

Aku terbaring diatas rerumputan hijau dan didekat sebuah pohon yang teramat rindang, aku merasakan kesejukan dari udara yang meraba seisi ragaku serta merasuk kedalam tubuhku, aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”.

Aku tertidur dihamparan hijau rumput ini, aku terselimuti kesejukan angin yang dilambaikan pepohonan ini, begitu nyenyaknya hingga nuansa ini menidurkanku, didalam mimpiku aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”

Ketika aku terbangun dari tidurku, kulihat malam telah menyembunyikan mentari, tapi ada keindahan lain yang disajikanNya, gemerlap bintang dan cahaya bulan menjadi perhiasan yang tampak cantik dan mahal, kulihat, kupandang, dan aku berkata, “sangat indah”.

Aku pulang dari tempat itu, bulan masih setia menemaniku, menuntun setiap langkahku hingga terang menjadi penuntun jalanku yang membuatku tak tersesat. Dari hal ini dapat kusimpulkan disaat siang maupun malam dunia sesungguhnya tetap menyajikan keindahan. Sesampainya dirumah kupandang lagi dengan menengadah kelangit, kusadari keAgunganNya, kupercaya karyaNya, dan aku berkata, “terimaksih atas dunia pemberianMu yang sangat indah ini meskipun hanya sebentar Kau izinkan aku untuk menikmatinya, tapi aku tetap bersyukur padaMu”

Saat aku ingin membaringkan ragaku ditempat tidurku, Ibuku datang menghampiriku, dia berkata disampingku “kau yang sangat indah dihidupku, apa kau baik-baik saja anaku?”
Aku hanya diam dan didalam hatiku aku berkata “apa benar aku adalah yang sangat indah dihidup Ibuku?” memikirkan itu membuatku meneteskan air mata.

Melihat airmataku Ibuku pun ikut menangis, aku melihatnya kasihan, meskipun sebenarnya akulah yang harusnya dikasihani. Aku tak akan bisa lama  merasakan pelukan Ibuku. Aku sangat menyanyangi Ibuku. Karena Ibuku itu “terindah atau bahkan yang sangat indah”.

Kenapa aku harus dilahirkan bila hanya sebentar aku ada didunia ini? Dengan halus aku bertanya pada Ibuku. Ibuku hanya bisa berkata “karena kau sangat indah anakku, mungkin Tuhan lebih ingin menempatkanmu ditempat yang terindah, yaitu sorgaNya”

Lalu aku bertanya kembali “begaimana dengan Ibu yang sesaat lagi harus aku tinggalkan?”  ibuku menjawab “perpisahan ini hanya sebentar, kau anak yang baik anaku, suatu saat nanti kita akan bisa bersama lagi disorga, sekarang yang lebih penting jangan lagi kamu memikirkan kanker otak yang membuat tubuhmu lemah dan tak berdaya itu. Karena itu hanya akan membuatmu semakin terluka anaku!” Itulah kata ibuku yang membuatku lebih tenang. Dan aku siap menghampiri kematianku. Karena pada akhirnya semua akan kembali padaNya.

Ibuku berkata lagi padaku “Tuhan punya kehendak yang tak pernah dikira manusia. Tuhan juga akan memberikan yang terindah untuk yang terindah,  anaku itu sangat indah, pasti Sang Pencipta akan menempatkanmu ditempatNya yang terindah”.

“Ibu, aku akan mati. Ibu jangan menangis ya! Aku sayang Ibu.”

No comments:

Post a Comment