(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Wednesday, October 19, 2011

Bukan pelangi sehabis hujan tapi air bah

Bukan pelangi sehabis hujan tapi air bah
oleh : Erato Dido Evandra, Agustus 2011

Menikam punggung yang tak pantas tersakiti
Dari sudut sempit dia tersenyum diantara luka yang diperbuatnya
Mengakibatkan derita yang menyakitkan
Bak terbunuh hanya tak mati
Sekarat, tangannya sekalipun tak menyambutnya
Tidak seperti janjinya dan oratornya
Haaaah dasar pelupa dan tak tahu diri

Lelah sudah suara terombang-ambing dilangit gedung wakil rakyat
Meneriakan keadilan dari dosa yang terpelihara
Suara hati yang menuntut kehidupan layak
Tapi wakil rakyat ternyata masih tuli

Lebih suka mengeksekusi tumpukan rupiah rakyat
Dari pada mengembalikan senyum sang rakyat  yang terluka

Ini sedikit rintihan dan tuntutan kami:
Jatuh, kami minta kau bangunkan kami
Lemah, kami minta kau kuatkan kami
Susah, kami minta bahagiakan kami
Miskin, kami minta jangan kau korupsi uang kami

Atas nama rakyat yang tertindas:
Jadilah wakil rakyat yang bijak nan terhormat.

Monday, October 10, 2011

Aku hidup dengan termanjakan alam (Mimpi)

Aku hidup dengan termanjakan alam (Mimpi)
Oleh : Erato Dido Evandra, Oktober 2011

Aku hidup dengan termanjakan alam
Air begitu jernih, menyejukan tenggorokanku
Padi tumbuh lebat dan subur, mengenyangkan perutku
Pohon-pohon tumbuh rindang, menyejukan kehidupanku

Dan akupun hidup kaya di negeriku
Kaya akan segala karya Esa
Semua ada, apapun itu....
Air jernih berlimpah
Kemaraupun tak pernah menyapa negeriku
Betapa bahagianya aku dan jiwa-jiwa dinegeriku
Semua hidup kaya dan bahagia

Kota-kota dinegriku begitu bersih
Kota-kota dinegriku begitu teratur
Kota-kota dinegeriku begitu ramah
Kota-kota dinegeriku begitu baik
Bagi siapapun yang hidup didalamnya
Semua hidup sehat, makmur dan bahagia
Tidak ada manusia yang terlantar semua berada

Alam tak pernah mengusik kami
Alam selalu memberi tanpa batas
Alam tak pernah letih memberikan kebahagiaan
Alam tak pernah membuat terluka ataupun menangis
Karena kami bersahabat dengan alam,
Karena kami baik kepada alam,
Juga baik kepada semua jiwa dinegeriku
Semua bersahabat dan berdampingan.

Oh.... ternyata itu semua hanya mimpi,
Ternyata semua itu hanya mawar dalam lelapku
Semua hanya angan disetiap jiwa yang menangis
Semua mimpi bagi jiwa yang terlantar

Karena dari semua yang kupandang, jauh dari angan indah
Semua gelap tanpa ada setetes jernih kebahagiaan

Manusia dihinggapi nafsu keserakahan
Manusia dihinggapi iblis yang menyesatkan
Pohon yang tumbuh lebat nyaris lenyap termakan gergaji,
Air terminum pabrik yang haus keserakahan,
Menjadikanya keruh dan kumuh
Udara yang menyelimuti kota-kota kami begitu kotor,
Asap-asap pabrik kian bernafsu memayungi kota,
Hingga menyesakkan paruku.

Banyak yang terluka
Banyak yang menangis
Atau bahkan banyak pula jiwa yang berpulang
Karena keserakahan manusia itu sendiri.

Alam tak lagi bersahabat,
Alam sangat membenci kami,
Membanjiri kota kami,
Membakar kota kami,
Melenyapkan mimpi-mimpi kami,

Terik mentari tak lagi sehangat dulu,
Tapi semakin membakar kulit kami.

Haruskah kita masih tak sadar diri?
Mari kita bangun kembali apa yang telah rusak!
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,
Lihatlah yang ada disekitarmu!

Bangun para manusia serakah!