(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Friday, December 30, 2011

Cerpen : Dendam bukanlah sebuah jawaban

Oleh : Erato Dido Evandra

Bila anda sudah memutuskan untuk bersatu dalam sebuah perkawinan dengan pasangan anda, genggam erat apa itu yang disebut kesetiaan, dan ingatlah tugas anda sebagai istri maupun suami bagi pasangan anda.
-------------------------------------------------- 

Pertengkaran itu masih terus membayangi kehidupanku hingga kini. Waktu itu aku melihat bapakku menampar ibuku dengan sangat keras. Aku waktu itu masih sangat kecil. Aku masih tidak mengerti urusan dan masalah orang dewasa. Yang bisa ku lakukan hanya melihat pertengkaran mereka berdua dengan ditemani boneka dipelukanku dan sesekali aku meneteskan air mata. Sesungguhnya aku tak mau pertengkaran itu hadir dikeluargaku. Aku rindu keluarga yang damai dan bahagia.
            Setelah aku beranjak dewasa aku baru mengerti masalah orang dewasa terutama dalam perkawinan, masalahnya hanyalah seks. Seks merupakan godaan yang paling mengerikan, bahkan kengeriannya mampu menghancurkan sebuah rumah tangga yang dibangun dengan pondasi cinta serta terjalin cukup lama. Kini aku mengerti mengapa bapakku waktu itu tidak menyanyangi ibuku lagi, bapakku jatuh dalam godaan wanita lain. Kini Bapakku menjalani hidup barunya dengan wanita jalang itu. Aku sangat membencinya. Terutama jika melihat air mata yang terus menetes dipipi ibuku. Aku ingin sekali membunuh bapakku sendiri, tapi tetaplah dia itu bapaku.
Kini aku hidup berdua dengan ibuku tanpa seoarang bapak bagiku maupun suami bagi ibuku. Aku tak pedulikan hal itu lagi. Aku sudah cukup bahagia hidup hanya dengan ibuku. Aku hanya ingin terus memeluk ibuku. Ibuku adalah segalanya buatku. Ibuku tak tergantikan oleh siapapun. Ibuku adalah bidadari didalam hidupku dan hatiku.
Sesungguhnya apa yang kualami dalam keluargaku membuatku tidak begitu percaya dengan cinta seorang laki-laki. Aku tidak menginginkan laki-laki seperti bapakku. Aku terus berdoa agar kelak diberi jodoh seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang terhadap keluarga.
Waktu itu ketika aku sedang bermain kerumah Rera temanku, aku melihat seorang laki-laki yang menarik dan kuperhatikan dia itu anaknya pendiam. Didalam hatiku aku berkata “Pasti dia laki-laki yang baik.” Lalu kuberanikan diriku untuk bertanya pada Rera tentang siapa laki-laki itu.
“Ra? Coba kesini sebentar!”
“Ada apa Ran?”
“Siapa laki-laki yang ngobrol dengan ibumu itu? Apa dia pacar kamu?”
“Ngawur kamu ini Ran! Dia itu kakak sepupuku”
“Hmmmmm begitu ya?” (aku tersenyum mendengar jawaban Rera temanku)
“Hmmmmm kamu suka ya dengan kakak aku?”
“Apa sih kamu ini ra?”
“Sudah ngaku saja! Hahahahaha.. sini aku kenalkan ke kakaku”
Aku malu ketika Rera sedikit mengejekku. Sepertinya Rera tahu dengan gerak-geriku. Aku memang tertarik dengan pemuda itu. Aku sangat senang ketika Rera mengenalkan aku dengan kakak sepupunya itu.
“Kak? ada yang ingin kenalan lho?”
“Apa-apaan sih kamu ini Ra? Aku kan malu”
(Tiba-tiba kakaknya menghampiri kami)
“Iya ada apa Ra?”
“Ini lho kak temenku ada yang ingin kenalan dengan kakak”
“Siapa?”
“Ini temanku Rani.”
Tanganku gemetar ketika tangannya menyentuh tanganku. Jantungku berdetak tak seperti biasanya. Aku serasa terhipnotis oleh keindahan matanya. Aku membeku tak mampu berkata sepatah kata apapun, ketika dia menyebutkan namanya.
“Kenalkan namaku Erdo”
“Aku Rani”
“Kamu temannya Rera?”
“Iya”
“Sudah lama kenal dengan adiku?”
“Iya kak”
“yasudah aku mau melanjutkan ngobrol dengan tanteku dulu ya?”
“Iya”
Rasanya seperti petir menenerjang tubuhku. Aku kaku tak berdaya akan suaranya. Aku beku tak mampu bergerak akan keramahanya. Dia lelaki yang berbeda itulah yang kurasakan saat itu. Dan aku berfikir “apakah aku menyukainya?”.
Tiba-tiba Rera memberikan nomor handphone kakaknya padaku. Entah karena apa, aku tanpa ragu begitu saja menerimanya. Aku bahagia ketika Rera temanku juga suka kalau aku bisa dekat dengan kakaknya, terlebih ketika dia bilang kalau kakaknya masih jomblo, itu lebih lagi mempertebal kebahagiaanku.
Keesokan harinya aku memberanikan untuk menghubungi kakaknya itu. Aku tak cukup punya nyali untuk menelpon Erdo. Aku hanya berani SMS padanya. Tak kusangka Erdo pun menyambut baik keinginanku untuk ingin dekat denganya. Sungguh ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku.
Beberapa minggu telah berlalu, sudah cukup lama kami saling mengenal. Tak kukira Erdo bisa suka dengan aku, Erdo pun menyatakan perasaannya padaku, aku sangat terkejut waktu itu. Tapi dengan perasaan yang sangat bahagia aku menerima rasa sayangnya terlebih aku juga begitu menyukainya.
Bulan terus beranjak, waktu semakin melekatkan hubungan kami. Atau mungkin kami masih muda, kami begitu cepat dekat sehingga kami sulit mengontrol kedekatan yang kami rasakan, kedekatan itu membuatku hamil. Aku senang ketika kabar kehamilanku kuberitahukan kepada Erdo dia pun bertanggung jawab, karena memang dia bapak dari anak yang kukandung ini.
Awal pernikahan aku sangat bahagia, Erdo begitu menyayangiku. Dia begitu perhatian padaku. Apalagi aku begitu dimanja olehnya. Sebenarnya bukan sepenuhnya dimanja, waktu itu aku begitu egois, semua pekerjaan dirumah yang semestinya adalah pekerjaan seorang istri aku abaikan. Aku tak mau melakukan pekerjaan yang menjijikan seperti cuci piring, cuci baju, menyapu rumah, dan sebagainya. Sehingga suamikulah yang terus kuperintah untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, sedangkan aku menjadi ratu didalam keluargaku yang tak melakukan apapun dan hanya menuntut pelayanan seorang suami padaku.
Sembilan bulan sudah berlalu semenjak kehamilanku, kini aku melahirkan seorang anak laki-laki. Suamiku semakin menyayangiku. Dia tampak begitu setia merawat kami berdua, dan akupun semakin sesuka hati memerintah dan memanfaatkan kebaikan suamiku.
Aku tak pernah menyadari kesalahan yang sudah kulakukan terhadap suamiku. Mungkin karena aku tidak pernah memberikan perhatiaan dan memanjakan suamiku, aku dikagetkan dengan foto yang ada di dompet suamiku. Foto itu suamiku bersama gadis muda. Aku sangat marah melihat foto itu.
“Foto siapa itu?”
“Foto yang mana ma?”
“Enggak usah berlagak bodoh! Jelaskan! Apa kamu selingkuh?”
“Maafkan aku Ma! Iya, aku memang selingkuh”
“Aku benci dengan kamu!”
“Maafin aku ma! Aku melakukan ini juga karena mama”
“Apa maksud kamu?”
“Aku juga rindu Mama sayangi, Mama perhatikan, aku rindu untuk dilayani sebagaimana mestinya seorang istri melayani seorang suami. Maafkan aku ma! Aku janji akan memutuskan wanita itu dan tidak akan lagi mengulangi perbuatan itu”
Aku tak tau apa yang ada dihatiku saat itu. Aku hancur, hatiku sakit merasakan penghianatan yang dilakukan suamiku. Perselingkuhan suamiku membuatku bosan berada di rumah terus. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan dan kesibukan diluar rumah.
Kehancuran yang kurasakan menuntunku untuk berbuat jahat pada suamiku. Aku ingin membalas apa yang sudah suamiku lakukan padaku. Aku ingin suamiku juga merasakan rasa sakit yang sudah dia tanamkan padaku.
Dilokasi dimana aku bekerja, kulihat dan kuperhatikan disini begitu banyak laki-laki keren. Aku berusaha untuk memikat mereka. Dan akan aku tunjukan pada suamiku kalau akupun juga bisa selingkuh.
Setelah beberapa minggu aku bekerja, aku mengenal seorang laki-laki yang bagiku cukup menarik. Kami sering makan berdua. akhirnya aku pun dapat memikat dia. Dan aku berencana untuk menunjukan pada suamiku kalau aku juga bisa mempunyai laki-laki simpanan.
Minggu siang aku meminta suamiku mengantarkan aku pergi ke suatu cafe dikota ini. Sesampainya di cafe tersebut aku kenalkan pacarku pada suamiku. Aku heran, mengapa suamiku tidak marah atau pun emosi ketika kukenalkan pacarku padanya. Aku kecewa dengan suamiku. Niatku untuk membalas dendam rasanya seperti tiada guna, suamiku tidak menunjukan emosi kemarahanya padaku.
Suatu hari aku berfikir kembali, bagaimana kalau kukenalkan pacarku yang lain. Apakah suamiku masih tetap akan diam?. Karena aku tau harga diri seorang laki-laki itu sangat tinggi, pasti tidak akan bersedia bergitu saja jika terus di injak-injak. Tapi apadaya suamiku pun juga tak menunjukan rasa marah atau bahkan cemburu padaku. Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan suamiku ini.
Ketika aku pulang kerja aku mendengar suamiku berdoa didalam kamar, dengan perlahan aku memperhatikan dan mendengarka doa suamiku
“Tuhan, ampunilah segala dosa yang telah kuperbuat terhadap istriku dulu, karena aku sempat menghianatinya!. Tuhan, aku juga memohon agar istriku juga segera bisa kembali terhadapku dengan menjadi istri yang baik dan setia terhadap keluarganya. Saat ini engkau telah mengaruniakan seorang anak pada kami, kami yakin kelak anak kami juga tidak akan menginginkan melihat orangtuanya hidup dengan tidak damai. Aku tahu istriku saat ini dibutakan dendam terhadapku. Istriku sudah menghianatiku, tapi aku memaafkannya Tuhan, aku hanya berharap istriku bisa kembali lagi terhadapku sebagai istri yang baik juga sebagai istri yang tidak lupa akan kewajiban dan tugasnya. Amin.”
Mendengar doa suamiku membuatku meneteskan air mata. Dan sejenak merenung akan semua yang sudah aku perbuat terhadap suamiku. Kini aku menyadari dosa yang begitu besar yang sudah kuperbuat terhadap suamiku. Aku telah mengabaikan tugasku sebagai seoarang istri, aku juga tahu keretakan dalam rumah tanggaku juga berawal dari watak egoisku yang tidak mau menghargai seorang suami. Kini aku menyesal. Disaat suamiku masih dalam keheningan doanya aku menghampirinya bersujud dikakinya dan memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kuperbuat. Aku bahagia ketika suamikupun menyambut dengan hangat permohonan maafku. Lalu kami pun sesaat berdoa bersama dan memohon pengampunan dari Tuhan. Dan berjanji dalam satu komitmen untuk menjaga rumah tangga yang sudah terajud dengan penuh kedamaian.

“Aku ini sudah menjadi seorang istri bagi suamiku...!”

Sunday, December 25, 2011

Terang bagi siapapun dan dimanapun

Terang bagi siapa pun dan di mana pun.
Oleh : Erato Dido Evandra, 25 Desember 2011

Tema Natal 2011 :
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. (Yesaya 9 : 1a )


Selamat Hari Natal 2011 dan Tahun Baru 2012
-----------------------------------------------

Natal, Natal, Natal
Sebuah momen yang begitu drindukan
Sebuah hari yang begitu dinantikan
Sebuah makna yang begitu disanjung tinggi

Terang itu hikmah natal kali ini
Menjadi terang didalam kehidupan
Menjadi pribadi terang di mana pun kita berada
Itulah pesan natal.

Natal membawa sukacita
Natal menghadirkan damai
Natal mengajarkan kasih
Natal itu adalah terang bagi semua orang :
Karena dengan Natal
kita diajak untuk semakin lekat dengan Dia
Karena dengan Natal kita diajak untuk semakin cinta akan Dia
Karena dengan Natal
Kita sadar sebagai manusia berdosa dihadapan Dia
Karena dengan Natal
Kita tahu betapa besar kasih Kristus akan manusia
Karena dengan Natal
Kita tahu begitu besar pengorbanan-Nya bagi kita. Manusia.
Karena dengan Natal
Kita sadar betapa agung karya penebusan dosa-Nya
Karena dengan Natal
Kita tahu tanpa cinta dari Dia, kita tak layak dihadap-Nya.
Kini kita sudah ditebus
Kini kita telah diselamatkan

Kini yang harus kita perbuat sebagai umat percaya
Adalah bersyukur pada-Nya
Bersyukur dengan menunjukan pribadi umat percaya yang takut akan Tuhan
Yang selalu menghadirkan damai, kasih, dan terang
Bagi siapa pun dan di mana pun kita berada.

Friday, December 23, 2011

Cerpen : Aku Kangen Sama Ibu, Pak?

OLeh : Erato Dido Evandra

Seberapa miskinnya sesorang, bila dia mempunyai keluarga, dia bisa disebut orang kaya.
karena itu jangan pernah menghianati atau bahkan meninggalkan keluargamu, kalau kamu tak mau disebut miskin (cinta dan kasih sayang).
--------------------------------------------------------------
Semenjak aku ditinggalkan istriku, lima tahun yang lalu dengan laki-laki lain, istriku tak pernah menampakan batang hidungnya sampai hari ini. Yang tersisa dari pernikahan kami hanyalah buah hati kami namanya soekarno, anaku yang sering dipanggil dengan sebutan karno. Aku menamai soekarno agar kelak anaku bisa menjadi pemimpin. Itulah harapanku. Terlebih aku berharap kelak dia bisa memimpin keluarganya jauh lebih baik dari aku, bapaknya.
Waktu itu anaku masih berumur 10 tahun, yah meskipun belum mengerti perpisahan kami, kadangkala anaku menanyakan keberadaan ibunya, aku bingung mau menjawab apa, tapi yasudahlah kujelaskan apa adanya, aku yakin ketika anaku dewasa akan mengerti dengan sendirinya. Jujur aku sangat rindu dengan istriku itu, meskipun dia sudah menghianatiku, aku masih cinta pada istriku itu. Karena itulah sampai saat ini aku masih sendiri dan tak menikah lagi.
Namaku Jumiran, sedangkan istriku yang meninggalkan aku namanya Nyamiatun. aku bekerja sebagai sopir dari pedagang kaya raya dikota ini namanya bos Kasno. Aku menikmati pekerjaan ini, apalagi bosku itu orangnya sangat baik. Yah meskipun dengan gaji yang pas-pasan.
Saat ini anaku sudah berumur 15 tahun, dan sekarang duduk dibangku SMA kelas 1. aku membesarkanya sendiri, tentu aku sangat menyayangi anaku itu. Karena hanya anaku itulah semangat didalam hidupku.
Pagi ini ketika pukul 06.30 WIB, aku dan anaku sedang menyantap makanan sarapan pagi kami. Karena anaku akan pergi kesekolah sedangkan aku harus segera kerumah bosku. Kunikmati detik demi detik kebersamaan ini bersama anaku tercinta, tanpa kusadari dan tak pernah kuduga anaku bertanya lagi soal ibunya, katanya “aku kangen sama ibu, pak? Dimana ibu sekarang ya pak? Kenapa ibu meninggalkan kita?” mendengar pertanyaan anaku sejenak aku hanya bisa diam, aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan anaku itu, lalu aku hanya bisa berkata, “berdoalah, kelak ibumu akan menemui kita, terutama kamu anaku, karena ikatan darah tak mungkin bisa terputus”.
Lagi-lagi aku mulai memikirkan istriku kembali, meskipun sesungguhnya dia tak pantas sedikitpun aku pikirkan. Tapi ini mengenai hati aku sudah terlanjur cinta pada istriku itu, aku hanya bisa berdoa dan berharap kelak dia kembali, meskipun bukan untuku aku rela, tapi harapanku kembalilah untuk memeluk anak kita, yang teramat merindukanmu, istriku.
Aku mendapat perintah dari bosku untuk mengantarnya pergi keluar kota, tentu karena urusan bisnis dagangnya.
Siang ini juga ternyata aku harus mengantarnya, lalu aku minta izin pulang terlebih dahulu, aku harus bilang pada anaku. Karena tampaknya aku akan lama ke luar kotanya. Sekitar satu minggu lamanya.
***

Jam 6 sore aku sampai dikota itu, aku diajak bosku untuk istirahat sejenak disebuah warung kopi dipinggir jalan raya. Aku memandang kota ini, dan tampak begitu indah,  pemandangan kota ini benar-benar cantik begitu juga wanita malam yang jalan mondar-mandir ditrotoar jalan ini. Tanpa kusadari kulihat seorang wanita dengan dandanan yang sangat cantik juga seksi, kupandang lagi, dia tampak tak asing bagiku, sepertinya aku pernah mengenalnya, lalu aku mencoba melangkah perlahan mendekatinya kira-kira jaraknya 15 meter, ketika semakin dekat dengan dia aku terkejut, kakiku gemetar karena yang kulihat itu istriku yang sudah lima tahun menghilang atau yang lebih tepat meninggalkan aku. Lalu aku memanggilnya “Nyamiatun, ingatkah kamu pada Soekarno anak kita?” mendengar perkataanku itu Nyamiatunpun tampak ikut terkejut, mungkin dia kaget karena yang berada dihadapanya itu aku, suami yang ditinggalkan demi laki-laki lain. Lalu Nyamiatun menghampiriku dan bersujut dikakiku, menangis, dan memeluk kakiku.
“mas? Maafin aku!”
“kenapa kamu meninggalkan aku dan anak kita demi laki-laki lain?”
“aku minta maaf  mas? Aku salah, aku tertipu sama laki-laki yang telah menggodaku dulu”
“Nyamiatun, asal kamu tau, Karno sangat kangen sama kamu? dimana laki-laki yang membawamu kabur dariku itu?”
“dia menjualku pada germo dikota ini, aku dipaksa melacur mas, aku menyesal”
“Nyamiatun, Nyamiatun, kamu itu rela meninggalkan keluargamu Cuma demi ini? Kamu telah terbuai cinta sesaat yang membutakan mata hati kamu ”
“aku menyesal mas”
“jadikan ini pelajaran yang berharga buatmu! Hargailah orang-orang yang menyanyangi dan mencintai kamu terutama keluargamu karena itu sangat mahal harganya”.
Setelah perbincangan cukup lama dengan istriku aku menghampiri bosku yang tampak bingung dengan keberdaanku yang nggak ada disampinya. Lalu aku menceritakan semua yang terjadi pada bosku. Bosku bisa menerimanya ketika aku mohon izin untuk ikut membawa istriku juga dalam perjalanan bisnisnya. Mungkin karena bosku sendiri orangnya baik juga dia sudah mendengar tentang peristiwa yang terjadi pada keluargaku lima tahun yang lalu, maklumlah bosku itu tetanggaku sendiri, beliau juga punya sikap dermawan dan bersosialisasi tinggi dengan tetangga-tetangganya.
Satu minggu sudah berlalu, kami pun kembali pulang, meskipun aku sendiri sulit memaafkan istriku, tapi aku harus bisa berbesar hati, karena ada Karno. Dialah anaku yang membuatku bisa memaafkan istriku dan memulainya dari awal lagi. Membangun keluarga yang lebih baik.
Ketika aku mengajak istriku kerumah. Anaku membukakan pintu, anaku tampak bingung atau mungkin lupa dengan siapa yang dilihat dihadapannya. Tiba-tiba istriku menangis serta memeluk Karno. Tapi Karno melepaskan pelukan Nyamiatun
“siapa kamu?”
“aku ibumu nak?”
“apa Karno lupa sama ibu?”
“apa benar kamu ibuku? Kenapa meninggalkan kami?”
“maafin ibu nak! Ibu menyesal dan mengaku salah”
“ibu tau, betapa kangennya aku sama ibu? Kenapa ibu tak pernah kembali menemui kami”
“maafin ibu nak! Kalau Karno mau memaafkan ibu, ibu janji akan memperbaiki semuanya dan nggak lagi meninggalkan karno dan mas Jumiran”
Mendengar perbincangan anaku dan istriku, aku ikut terharu, meskipun aku merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap istriku. Aku hanya berharap istriku tak akan terbuai lagi dengan cinta sesaat  karena sebenarnya itu hanya semu belaka. Serta istriku tak lagi meninggalkan aku dan anaku. Aku akan membangun keluargaku kembali lebih hangat dan aku akan berusaha untuk lebih menjaganya.
Lalu aku memeluk mereka berdua. aku melihat mereka berdua masih menangis tersedu-sedu, aku mendengar anaku berbicara dengan lirih “aku kangen sama ibu, ibu jangan lagi ninggalin kami ya!”.

Thursday, December 22, 2011

Teristimewanya dirimu

Teristimewanya dirimu
Oleh : Erato Dido Evandra, 2011

Bila malam menjelang
Kaulah mimik wajah yang pertama kubayangkan
Menerjang hatiku
Mendebarkan denyut jantungku setiap kau kubayangkan
Teristimewanya dirimu
Hingga hanya dirimulah yang menghiasi malamku
Dan menjadi bunga keindahan
Di dalam mimpi indah bersama denganmu
Dipelukanmu hingga fajar menyapaku
Dan kau selau begitu setiap waktu yang mengindahkan aku
Karena kau bagian yang tak akan terlepas dari diriku

Wednesday, December 21, 2011

Puspa Putri SN

 Kau memang tak secantik bidadari, tak sesempurna malaikat, dan tak seindah dewi. Tapi kehadiranmu membuatku sadar akan arti tanggung jawab sebagai seorang pria. Karena itu kehadiranmu adalah pelengkap dan penyempurna hidupku.

Kini kau menjadi ratu dihatiku, lebih dari sekedar bidadari, malikat ataupun dewi. kecantikan cintamu adalah harta paling sempurna bagiku.

Itulah dirimu dimataku dan dihatiku.

Dari aku, yang mencintaimu.

-Erato Dido Evandra-

Sunday, December 11, 2011

Dari Hatiku

Dari Hatiku
Oleh : Erato Dido Evandra, 2010

Dari hatiku
Semoga semakin menyatu denganmu
Dari mataku
Kiranya hanya kamu yang kupandang
Dari tanganku
Kiranya hanya untuk menjaga kamu
Dari bibirku
Kiranya hanya untuk menyayangimu
Dari lidahku
Kiranya untuk saling mengingatkan
Begitupun kuharapkan sama darimu.

Dari hatiku.
---------------------------------------------
(english version)

From my heart

from my heart
Hopefully more and more fused with
from my eyes
Presumably only you who I saw
of hand
Presumably just to keep you
from my lips
Presumably just to love you
from my tongue
Presumably to remind each other
Likewise I expect the same from you.

From my heart.

Saturday, December 10, 2011

Cerpen : Menghampiri kematianku

Oleh : Erato Dido Evandra


Kupersembahkan untuk :
Bagi siapapun yang dihadapkan pada kematian, tenanglah Tuhan mengasihi anda!
--------------------------------------------------

Saat memandang langit yang begitu luas dan membiru, serta kulihat pepohonan yang melambaikan tangan-tanganya yang membuatnya seakan hidup, aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”.

Aku terbaring diatas rerumputan hijau dan didekat sebuah pohon yang teramat rindang, aku merasakan kesejukan dari udara yang meraba seisi ragaku serta merasuk kedalam tubuhku, aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”.

Aku tertidur dihamparan hijau rumput ini, aku terselimuti kesejukan angin yang dilambaikan pepohonan ini, begitu nyenyaknya hingga nuansa ini menidurkanku, didalam mimpiku aku berkata pada diriku sendiri, “sangat indah”

Ketika aku terbangun dari tidurku, kulihat malam telah menyembunyikan mentari, tapi ada keindahan lain yang disajikanNya, gemerlap bintang dan cahaya bulan menjadi perhiasan yang tampak cantik dan mahal, kulihat, kupandang, dan aku berkata, “sangat indah”.

Aku pulang dari tempat itu, bulan masih setia menemaniku, menuntun setiap langkahku hingga terang menjadi penuntun jalanku yang membuatku tak tersesat. Dari hal ini dapat kusimpulkan disaat siang maupun malam dunia sesungguhnya tetap menyajikan keindahan. Sesampainya dirumah kupandang lagi dengan menengadah kelangit, kusadari keAgunganNya, kupercaya karyaNya, dan aku berkata, “terimaksih atas dunia pemberianMu yang sangat indah ini meskipun hanya sebentar Kau izinkan aku untuk menikmatinya, tapi aku tetap bersyukur padaMu”

Saat aku ingin membaringkan ragaku ditempat tidurku, Ibuku datang menghampiriku, dia berkata disampingku “kau yang sangat indah dihidupku, apa kau baik-baik saja anaku?”
Aku hanya diam dan didalam hatiku aku berkata “apa benar aku adalah yang sangat indah dihidup Ibuku?” memikirkan itu membuatku meneteskan air mata.

Melihat airmataku Ibuku pun ikut menangis, aku melihatnya kasihan, meskipun sebenarnya akulah yang harusnya dikasihani. Aku tak akan bisa lama  merasakan pelukan Ibuku. Aku sangat menyanyangi Ibuku. Karena Ibuku itu “terindah atau bahkan yang sangat indah”.

Kenapa aku harus dilahirkan bila hanya sebentar aku ada didunia ini? Dengan halus aku bertanya pada Ibuku. Ibuku hanya bisa berkata “karena kau sangat indah anakku, mungkin Tuhan lebih ingin menempatkanmu ditempat yang terindah, yaitu sorgaNya”

Lalu aku bertanya kembali “begaimana dengan Ibu yang sesaat lagi harus aku tinggalkan?”  ibuku menjawab “perpisahan ini hanya sebentar, kau anak yang baik anaku, suatu saat nanti kita akan bisa bersama lagi disorga, sekarang yang lebih penting jangan lagi kamu memikirkan kanker otak yang membuat tubuhmu lemah dan tak berdaya itu. Karena itu hanya akan membuatmu semakin terluka anaku!” Itulah kata ibuku yang membuatku lebih tenang. Dan aku siap menghampiri kematianku. Karena pada akhirnya semua akan kembali padaNya.

Ibuku berkata lagi padaku “Tuhan punya kehendak yang tak pernah dikira manusia. Tuhan juga akan memberikan yang terindah untuk yang terindah,  anaku itu sangat indah, pasti Sang Pencipta akan menempatkanmu ditempatNya yang terindah”.

“Ibu, aku akan mati. Ibu jangan menangis ya! Aku sayang Ibu.”

Friday, December 9, 2011

Satu Daging


Satu daging
Oleh : Erato Dido Evandra, 2009

Ketika aku petik sebuah gitar
Kudapati sebuah nada yang indah
Dari rangkaian kunci gitar yang menyatu
Dan dapat aku nyanyikan melodi cinta yang indah

Ketika aku mencoba berfikir
Dan ketika aku membayangkan
Sebuah melodi yang indah ini
Adalah sebuah cinta yang menyatu dari dua pribadi

Ketika kunci-kunci gitar menyatu
Menghasilkan melodi yang merdu
Dan betapa merdunya aku bayangkan
Dua jiwa menjadi satu daging

Menjadi satu dalam seluruh kehidupan
Menjadi satu atas nama cinta
Penyatuan yang kaya akan kesetiaan
Selalu bersama dalam suka dan duka
Penuh keharmonisan dan diberkati Tuhan

Wednesday, December 7, 2011

Cinta

Oleh Erato Dido Evandra, 2011


                                   Kepadamu                     akuterpaut
                               Semakin     aku                merindukan mu
                       Aku         cinta   dan aku    selau   cinta    kepadamu
               Hanya   kata   itu     yang mam   pu       menjelaskan    alasanku
             Dengan betapa besarnya keinginanku untuk     selalu disampingmu
         Karena   cinta lah       kau begitu      teristimewa     dihidupku dan hatiku
        Kamu harus  tau itu kekasihku kaulah    penyemangat   didalam hidupku
           Aku tak   tau  lagi  bila hidupku tanpa kehadiran   cintamu dan dirimu
             Percayalah    aku   tak akan     memudarkan rasa     cintaku untumu
               Syair    cinta    ini    kuciptakan       hanya    untukmu   bidadariku
                 Meskipun dengan ujar yang sederhana tapi   hanya untukmu
                    Hanya dirimu  hanya dirimu  hanya dirimu    hanya dirimu
                        Terimalah      setiap     kata demi kata yang terangkai
                           Yang  aku rangkaikan untuk mengatakan cintaku
                              Mengatakanbetapabesarnyacintakuuntukmu
                                Hinggamenghadirkansenyuman untukkita
                                    Senyuman yang membahagiakan  kita
                                        Kebahagiaan    tiada     akhirnya
                                           Hanya     dengan     kamu
                                                Karena yang kumau
                                                    Cuma     kamu
                                                           Kamu

Monday, December 5, 2011

Cerpen : Hah cuma mimpi


Oleh : Erato Dido Evandra

kupersembahkan untuk :
Bagi siapapun yang ingin menikah muda sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu!.
---------------------------------------------------------------
Namaku Wage, saat ini aku sudah berkeluarga, nama istriku Susi, lengkap sudah hidupku. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku apalagi istriku cantiknya bukan maen. Semoga gak ada yang iri ya? hehehe

Aku duduk diteras rumah, aku mengangkat kakiku dikursi, dengan santainya kuhisap rokok yang kubeli dengan harga Rp. 8.500,00 yaitu rokok dengan merek gudang garam. Aku menikmati satu persatu setiap batang rokok yang kubeli ini.

Sedikit mempermainkan caraku merokok, dan dengan sesekali menyeruput kopi yang disediakan istriku, sangat nikmat nan lengkap sudah. Aku benar-benar menikmati siang ini dengan memanjakan diriku sendiri.

Sesekali aku tertawa mengingat perkataan temanku waktu itu katanya “aku itu membenci rokok, karena itu setiap hari satu persatu tiap batang rokok kubakar” mengingat itu aku tertawa terbahak-bahak. “Bukankah itu sama saja perokok ulung”.

Tak lama aku menikmati rokok dan secangkir kopi, istriku memanggil “mas? Maaas?” istriku mencariku, aku pun datang menghampiri istriku “ada apa dek?” istriku memegang tanganku menunjukan karung beras yang tinggal sedikit “beras kita sudah habis mas”.

Aku hanya bisa diam mengingat uangku kan tadi sudah kubelikan rokok, aku bingung mau ngomong apa sama istriku. Akhirnya aku bilang saja “nanti ya dek uangnya aku beri” istriku menjawab dengan manja “iya mas”.

Istriku memang penyabar lebih lagi penyayang aku sangat menyayangi dan mencintai istriku itu. Karena itu saat ini dibuat bingung dengan kondisi bokeknya kantongku, sampai-sampai tak mampu membeli beras.
Memang sebenarnya aku belum pantas untuk berumah tangga, umurku kan baru 21 tahun sedangkan istriku itu masih berumur 18 tahun, enam bulan yang lalu aku menikahi istriku saat ini. Hmmmm tentu karena aku sangat mencintai istriku itulah yang membuatku ingin secepatnya menikahinya dan memilikinya seutuhnya.

Waktu itu sebenarnya aku juga tak mengira kalau pujaan hatiku yang sekarang menjadi istriku menerima lamaranku diusianya yang masih muda, apalagi aku belum punya pekerjaan tetap, aku itu cuma kuli bangunan yang belum tentu setiap hari dapat kerja. Eh ternyata pujaan hatiku menerima dengan iklas, mungkin karena istriku juga mencintai aku. betapa bahagianya aku.

Kadang-kadang aku juga merasa takut suatu saat nanti istriku akan meninggalkan aku, aku cukup sadar dirilah pernikahanku bukan pernikahan yang patut untuk dicontoh, nikah muda itu susahnya gini apalagi kalau belum siap, uang cuma alakadarnya akibatnya makan seadanya. Karena itu aku takut nanti kalau tiba-tiba ada orang kaya yang suka dengan istriku serta istriku kepincut, waduh bagamana itu ya? Hmmmm semoga saja enggak sampae kejadian yang kutakutkan itu, apalagi istriku itu memang cukup cantik.

Aku memikirkan lagi beras yang sudah habis itu, bagaimana caraku membeli bila uangku sudah habis apalagi sudah satu minggu aku gak nguli. Pusingnya aku memikirkan hal ini, ah lebih baik aku tidur dulu, aku pergi kekamar dan kubaringkan tubuhku.
******

Kuliahat istriku sedang dandan sangat cantik, sambil mengelus-ngelus dadaku aku berkata pada istriku “dek, mau kemana? Dandan secantik itu?” istriku hanya tersenyum dan menjawabnya dengan santainya “mau ikut arisan sama ibu-ibu tetangga mas” mendengar itu aku masih tetap menaruh curiga, tapi karena tak mau merusak nuansa pernikahan kami yang masih muda ini aku berusaha percaya pada istriku. Dan kubiarkan istriku pergi sesuai dengan izinya untuk ikut arisan bersama ib-ibu tetangga.

Kumenunggu istriku, lamaaa sekali istriku tak pulang-pulang. Kulihat jam didinding yang sudah menunjukan pukul empat sore, aku mulai merasa kawatir, apalagi istriku tadi perginya pukul duabelas siang, sudah empat jam istriku belum pulang. Membuatku memikirkan yang hal aneh-aneh dan perasaan curiga mulai menggangguku.

Kuputuskan untuk mencari istriku. Yang aku tau kalau acaranya ibu-ibu pasti ngumpulnya dibalai desa yang tak jauh dari rumahku. Aku menuju balai desa dengan menaiki sepeda onthel kesayanganku. Sesampainya dibalai aku kaget, karena balai tampak sepi nggak ada kegiatan apa-apa.

Betapa bingungnya aku dengan kondisi seperti itu. Lalu kuputuskan lagi untuk mencari istriku kerumah Bu Yanti, biasanya sih Bu yanti itu yang suka ngumpulin ibu-ibu arisan. Aku menuju rumahnya dengan perasaan gelisah, sesampainya dirumah ibu Yanti, kulihat Bu Yanti sedang menyapu halaman rumahnya yang tampak kotor karena pohon rambutan didepan rumahnya banyak menjatuhkkan daun-daunya, lalu kusapa Bu Yanti yang masih sibuk dengan daun-daun yang berserakan itu “selamat sore Bu Yanti?” Bu Yanti tampak terkejut melihat keberadaanku, lalu Bu Yanti menjawab
“sore mas Wage, ada apa?”
“begini Bu, aku lagi nyari Susi?”
“istrimu to?”
“betul bu, apa ibu tau? Apalagi kata istriku mau datang ke acara arisanya ibu-ibu, begitu bu”
“lho, Ibu-ibu enggak ada acara arisan mas, acara arisannya masih besok. Tadi aku lihat istrimu jalan kearah sana mas, mungkin ada janji sama temannya”
Sambil menunjukan lokasi dimana Bu yanti sempat melihatnya dengan tanganya, tiba-tiba sebuah mobil honda jaz putih berhenti dilokasi yang ditunjukan Bu Yanti, aku sangat terkejut melihat kejadian itu, apalagi ketika cowok yang mengendarai mobil itu membukakan pintu sebelah kanan mobilnya dan yang keluar ternyata istriku.

Aku menghampiri istriku dengan segenggam emosi yang meledak-ledak, istriku lebih tampak kaget melihat keberadaanku apalagi si cowok yang bersama istriku hanya bisa diam. Aku dengan segera menampar istriku, istriku menangis karena tamparanku.
“mas, sakit”
“itu tak sebanding dengan tingkahmu yang membohongiku serta menghianatiku”
“maafin aku mas, aku enggak kuat hidup sengsara terus sama mas, enam bulan kita menikah, tapi mas belum juga dapet kerjaan tetap”
“apa dengan harta kamu mengukur semuanya ini istriku?”
“maafin aku mas! Maafin aku, aku sudah mencintai laki-laki lain lagi mas”
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara istriku “mas mas bangun! Udah sore lho” suara istriku itu membuatku bangun dari tidurku, sambil ngelus dadaku aku berkata “hah cuma mimpi” syukurlah cuma mimpi. Istriku tampak bingung, istriku bertanya “mas ngimpi apa?” aku menjawab sambil memeluk istriku “aku mimpi kehilangan kamu, dan kamu mencintai laki-laki lain. Aku mencintaimu. Jangan ninggalin aku ya dek!” istriku menjawab dengan lembut “mas ini ada-ada saja, ya enggaklah, aku juga cinta sama mas wage”.