(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Friday, December 30, 2011

Cerpen : Dendam bukanlah sebuah jawaban

Oleh : Erato Dido Evandra

Bila anda sudah memutuskan untuk bersatu dalam sebuah perkawinan dengan pasangan anda, genggam erat apa itu yang disebut kesetiaan, dan ingatlah tugas anda sebagai istri maupun suami bagi pasangan anda.
-------------------------------------------------- 

Pertengkaran itu masih terus membayangi kehidupanku hingga kini. Waktu itu aku melihat bapakku menampar ibuku dengan sangat keras. Aku waktu itu masih sangat kecil. Aku masih tidak mengerti urusan dan masalah orang dewasa. Yang bisa ku lakukan hanya melihat pertengkaran mereka berdua dengan ditemani boneka dipelukanku dan sesekali aku meneteskan air mata. Sesungguhnya aku tak mau pertengkaran itu hadir dikeluargaku. Aku rindu keluarga yang damai dan bahagia.
            Setelah aku beranjak dewasa aku baru mengerti masalah orang dewasa terutama dalam perkawinan, masalahnya hanyalah seks. Seks merupakan godaan yang paling mengerikan, bahkan kengeriannya mampu menghancurkan sebuah rumah tangga yang dibangun dengan pondasi cinta serta terjalin cukup lama. Kini aku mengerti mengapa bapakku waktu itu tidak menyanyangi ibuku lagi, bapakku jatuh dalam godaan wanita lain. Kini Bapakku menjalani hidup barunya dengan wanita jalang itu. Aku sangat membencinya. Terutama jika melihat air mata yang terus menetes dipipi ibuku. Aku ingin sekali membunuh bapakku sendiri, tapi tetaplah dia itu bapaku.
Kini aku hidup berdua dengan ibuku tanpa seoarang bapak bagiku maupun suami bagi ibuku. Aku tak pedulikan hal itu lagi. Aku sudah cukup bahagia hidup hanya dengan ibuku. Aku hanya ingin terus memeluk ibuku. Ibuku adalah segalanya buatku. Ibuku tak tergantikan oleh siapapun. Ibuku adalah bidadari didalam hidupku dan hatiku.
Sesungguhnya apa yang kualami dalam keluargaku membuatku tidak begitu percaya dengan cinta seorang laki-laki. Aku tidak menginginkan laki-laki seperti bapakku. Aku terus berdoa agar kelak diberi jodoh seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang terhadap keluarga.
Waktu itu ketika aku sedang bermain kerumah Rera temanku, aku melihat seorang laki-laki yang menarik dan kuperhatikan dia itu anaknya pendiam. Didalam hatiku aku berkata “Pasti dia laki-laki yang baik.” Lalu kuberanikan diriku untuk bertanya pada Rera tentang siapa laki-laki itu.
“Ra? Coba kesini sebentar!”
“Ada apa Ran?”
“Siapa laki-laki yang ngobrol dengan ibumu itu? Apa dia pacar kamu?”
“Ngawur kamu ini Ran! Dia itu kakak sepupuku”
“Hmmmmm begitu ya?” (aku tersenyum mendengar jawaban Rera temanku)
“Hmmmmm kamu suka ya dengan kakak aku?”
“Apa sih kamu ini ra?”
“Sudah ngaku saja! Hahahahaha.. sini aku kenalkan ke kakaku”
Aku malu ketika Rera sedikit mengejekku. Sepertinya Rera tahu dengan gerak-geriku. Aku memang tertarik dengan pemuda itu. Aku sangat senang ketika Rera mengenalkan aku dengan kakak sepupunya itu.
“Kak? ada yang ingin kenalan lho?”
“Apa-apaan sih kamu ini Ra? Aku kan malu”
(Tiba-tiba kakaknya menghampiri kami)
“Iya ada apa Ra?”
“Ini lho kak temenku ada yang ingin kenalan dengan kakak”
“Siapa?”
“Ini temanku Rani.”
Tanganku gemetar ketika tangannya menyentuh tanganku. Jantungku berdetak tak seperti biasanya. Aku serasa terhipnotis oleh keindahan matanya. Aku membeku tak mampu berkata sepatah kata apapun, ketika dia menyebutkan namanya.
“Kenalkan namaku Erdo”
“Aku Rani”
“Kamu temannya Rera?”
“Iya”
“Sudah lama kenal dengan adiku?”
“Iya kak”
“yasudah aku mau melanjutkan ngobrol dengan tanteku dulu ya?”
“Iya”
Rasanya seperti petir menenerjang tubuhku. Aku kaku tak berdaya akan suaranya. Aku beku tak mampu bergerak akan keramahanya. Dia lelaki yang berbeda itulah yang kurasakan saat itu. Dan aku berfikir “apakah aku menyukainya?”.
Tiba-tiba Rera memberikan nomor handphone kakaknya padaku. Entah karena apa, aku tanpa ragu begitu saja menerimanya. Aku bahagia ketika Rera temanku juga suka kalau aku bisa dekat dengan kakaknya, terlebih ketika dia bilang kalau kakaknya masih jomblo, itu lebih lagi mempertebal kebahagiaanku.
Keesokan harinya aku memberanikan untuk menghubungi kakaknya itu. Aku tak cukup punya nyali untuk menelpon Erdo. Aku hanya berani SMS padanya. Tak kusangka Erdo pun menyambut baik keinginanku untuk ingin dekat denganya. Sungguh ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku.
Beberapa minggu telah berlalu, sudah cukup lama kami saling mengenal. Tak kukira Erdo bisa suka dengan aku, Erdo pun menyatakan perasaannya padaku, aku sangat terkejut waktu itu. Tapi dengan perasaan yang sangat bahagia aku menerima rasa sayangnya terlebih aku juga begitu menyukainya.
Bulan terus beranjak, waktu semakin melekatkan hubungan kami. Atau mungkin kami masih muda, kami begitu cepat dekat sehingga kami sulit mengontrol kedekatan yang kami rasakan, kedekatan itu membuatku hamil. Aku senang ketika kabar kehamilanku kuberitahukan kepada Erdo dia pun bertanggung jawab, karena memang dia bapak dari anak yang kukandung ini.
Awal pernikahan aku sangat bahagia, Erdo begitu menyayangiku. Dia begitu perhatian padaku. Apalagi aku begitu dimanja olehnya. Sebenarnya bukan sepenuhnya dimanja, waktu itu aku begitu egois, semua pekerjaan dirumah yang semestinya adalah pekerjaan seorang istri aku abaikan. Aku tak mau melakukan pekerjaan yang menjijikan seperti cuci piring, cuci baju, menyapu rumah, dan sebagainya. Sehingga suamikulah yang terus kuperintah untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, sedangkan aku menjadi ratu didalam keluargaku yang tak melakukan apapun dan hanya menuntut pelayanan seorang suami padaku.
Sembilan bulan sudah berlalu semenjak kehamilanku, kini aku melahirkan seorang anak laki-laki. Suamiku semakin menyayangiku. Dia tampak begitu setia merawat kami berdua, dan akupun semakin sesuka hati memerintah dan memanfaatkan kebaikan suamiku.
Aku tak pernah menyadari kesalahan yang sudah kulakukan terhadap suamiku. Mungkin karena aku tidak pernah memberikan perhatiaan dan memanjakan suamiku, aku dikagetkan dengan foto yang ada di dompet suamiku. Foto itu suamiku bersama gadis muda. Aku sangat marah melihat foto itu.
“Foto siapa itu?”
“Foto yang mana ma?”
“Enggak usah berlagak bodoh! Jelaskan! Apa kamu selingkuh?”
“Maafkan aku Ma! Iya, aku memang selingkuh”
“Aku benci dengan kamu!”
“Maafin aku ma! Aku melakukan ini juga karena mama”
“Apa maksud kamu?”
“Aku juga rindu Mama sayangi, Mama perhatikan, aku rindu untuk dilayani sebagaimana mestinya seorang istri melayani seorang suami. Maafkan aku ma! Aku janji akan memutuskan wanita itu dan tidak akan lagi mengulangi perbuatan itu”
Aku tak tau apa yang ada dihatiku saat itu. Aku hancur, hatiku sakit merasakan penghianatan yang dilakukan suamiku. Perselingkuhan suamiku membuatku bosan berada di rumah terus. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan dan kesibukan diluar rumah.
Kehancuran yang kurasakan menuntunku untuk berbuat jahat pada suamiku. Aku ingin membalas apa yang sudah suamiku lakukan padaku. Aku ingin suamiku juga merasakan rasa sakit yang sudah dia tanamkan padaku.
Dilokasi dimana aku bekerja, kulihat dan kuperhatikan disini begitu banyak laki-laki keren. Aku berusaha untuk memikat mereka. Dan akan aku tunjukan pada suamiku kalau akupun juga bisa selingkuh.
Setelah beberapa minggu aku bekerja, aku mengenal seorang laki-laki yang bagiku cukup menarik. Kami sering makan berdua. akhirnya aku pun dapat memikat dia. Dan aku berencana untuk menunjukan pada suamiku kalau aku juga bisa mempunyai laki-laki simpanan.
Minggu siang aku meminta suamiku mengantarkan aku pergi ke suatu cafe dikota ini. Sesampainya di cafe tersebut aku kenalkan pacarku pada suamiku. Aku heran, mengapa suamiku tidak marah atau pun emosi ketika kukenalkan pacarku padanya. Aku kecewa dengan suamiku. Niatku untuk membalas dendam rasanya seperti tiada guna, suamiku tidak menunjukan emosi kemarahanya padaku.
Suatu hari aku berfikir kembali, bagaimana kalau kukenalkan pacarku yang lain. Apakah suamiku masih tetap akan diam?. Karena aku tau harga diri seorang laki-laki itu sangat tinggi, pasti tidak akan bersedia bergitu saja jika terus di injak-injak. Tapi apadaya suamiku pun juga tak menunjukan rasa marah atau bahkan cemburu padaku. Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan suamiku ini.
Ketika aku pulang kerja aku mendengar suamiku berdoa didalam kamar, dengan perlahan aku memperhatikan dan mendengarka doa suamiku
“Tuhan, ampunilah segala dosa yang telah kuperbuat terhadap istriku dulu, karena aku sempat menghianatinya!. Tuhan, aku juga memohon agar istriku juga segera bisa kembali terhadapku dengan menjadi istri yang baik dan setia terhadap keluarganya. Saat ini engkau telah mengaruniakan seorang anak pada kami, kami yakin kelak anak kami juga tidak akan menginginkan melihat orangtuanya hidup dengan tidak damai. Aku tahu istriku saat ini dibutakan dendam terhadapku. Istriku sudah menghianatiku, tapi aku memaafkannya Tuhan, aku hanya berharap istriku bisa kembali lagi terhadapku sebagai istri yang baik juga sebagai istri yang tidak lupa akan kewajiban dan tugasnya. Amin.”
Mendengar doa suamiku membuatku meneteskan air mata. Dan sejenak merenung akan semua yang sudah aku perbuat terhadap suamiku. Kini aku menyadari dosa yang begitu besar yang sudah kuperbuat terhadap suamiku. Aku telah mengabaikan tugasku sebagai seoarang istri, aku juga tahu keretakan dalam rumah tanggaku juga berawal dari watak egoisku yang tidak mau menghargai seorang suami. Kini aku menyesal. Disaat suamiku masih dalam keheningan doanya aku menghampirinya bersujud dikakinya dan memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kuperbuat. Aku bahagia ketika suamikupun menyambut dengan hangat permohonan maafku. Lalu kami pun sesaat berdoa bersama dan memohon pengampunan dari Tuhan. Dan berjanji dalam satu komitmen untuk menjaga rumah tangga yang sudah terajud dengan penuh kedamaian.

“Aku ini sudah menjadi seorang istri bagi suamiku...!”

No comments:

Post a Comment