(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Monday, December 5, 2011

Cerpen : Hah cuma mimpi


Oleh : Erato Dido Evandra

kupersembahkan untuk :
Bagi siapapun yang ingin menikah muda sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu!.
---------------------------------------------------------------
Namaku Wage, saat ini aku sudah berkeluarga, nama istriku Susi, lengkap sudah hidupku. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku apalagi istriku cantiknya bukan maen. Semoga gak ada yang iri ya? hehehe

Aku duduk diteras rumah, aku mengangkat kakiku dikursi, dengan santainya kuhisap rokok yang kubeli dengan harga Rp. 8.500,00 yaitu rokok dengan merek gudang garam. Aku menikmati satu persatu setiap batang rokok yang kubeli ini.

Sedikit mempermainkan caraku merokok, dan dengan sesekali menyeruput kopi yang disediakan istriku, sangat nikmat nan lengkap sudah. Aku benar-benar menikmati siang ini dengan memanjakan diriku sendiri.

Sesekali aku tertawa mengingat perkataan temanku waktu itu katanya “aku itu membenci rokok, karena itu setiap hari satu persatu tiap batang rokok kubakar” mengingat itu aku tertawa terbahak-bahak. “Bukankah itu sama saja perokok ulung”.

Tak lama aku menikmati rokok dan secangkir kopi, istriku memanggil “mas? Maaas?” istriku mencariku, aku pun datang menghampiri istriku “ada apa dek?” istriku memegang tanganku menunjukan karung beras yang tinggal sedikit “beras kita sudah habis mas”.

Aku hanya bisa diam mengingat uangku kan tadi sudah kubelikan rokok, aku bingung mau ngomong apa sama istriku. Akhirnya aku bilang saja “nanti ya dek uangnya aku beri” istriku menjawab dengan manja “iya mas”.

Istriku memang penyabar lebih lagi penyayang aku sangat menyayangi dan mencintai istriku itu. Karena itu saat ini dibuat bingung dengan kondisi bokeknya kantongku, sampai-sampai tak mampu membeli beras.
Memang sebenarnya aku belum pantas untuk berumah tangga, umurku kan baru 21 tahun sedangkan istriku itu masih berumur 18 tahun, enam bulan yang lalu aku menikahi istriku saat ini. Hmmmm tentu karena aku sangat mencintai istriku itulah yang membuatku ingin secepatnya menikahinya dan memilikinya seutuhnya.

Waktu itu sebenarnya aku juga tak mengira kalau pujaan hatiku yang sekarang menjadi istriku menerima lamaranku diusianya yang masih muda, apalagi aku belum punya pekerjaan tetap, aku itu cuma kuli bangunan yang belum tentu setiap hari dapat kerja. Eh ternyata pujaan hatiku menerima dengan iklas, mungkin karena istriku juga mencintai aku. betapa bahagianya aku.

Kadang-kadang aku juga merasa takut suatu saat nanti istriku akan meninggalkan aku, aku cukup sadar dirilah pernikahanku bukan pernikahan yang patut untuk dicontoh, nikah muda itu susahnya gini apalagi kalau belum siap, uang cuma alakadarnya akibatnya makan seadanya. Karena itu aku takut nanti kalau tiba-tiba ada orang kaya yang suka dengan istriku serta istriku kepincut, waduh bagamana itu ya? Hmmmm semoga saja enggak sampae kejadian yang kutakutkan itu, apalagi istriku itu memang cukup cantik.

Aku memikirkan lagi beras yang sudah habis itu, bagaimana caraku membeli bila uangku sudah habis apalagi sudah satu minggu aku gak nguli. Pusingnya aku memikirkan hal ini, ah lebih baik aku tidur dulu, aku pergi kekamar dan kubaringkan tubuhku.
******

Kuliahat istriku sedang dandan sangat cantik, sambil mengelus-ngelus dadaku aku berkata pada istriku “dek, mau kemana? Dandan secantik itu?” istriku hanya tersenyum dan menjawabnya dengan santainya “mau ikut arisan sama ibu-ibu tetangga mas” mendengar itu aku masih tetap menaruh curiga, tapi karena tak mau merusak nuansa pernikahan kami yang masih muda ini aku berusaha percaya pada istriku. Dan kubiarkan istriku pergi sesuai dengan izinya untuk ikut arisan bersama ib-ibu tetangga.

Kumenunggu istriku, lamaaa sekali istriku tak pulang-pulang. Kulihat jam didinding yang sudah menunjukan pukul empat sore, aku mulai merasa kawatir, apalagi istriku tadi perginya pukul duabelas siang, sudah empat jam istriku belum pulang. Membuatku memikirkan yang hal aneh-aneh dan perasaan curiga mulai menggangguku.

Kuputuskan untuk mencari istriku. Yang aku tau kalau acaranya ibu-ibu pasti ngumpulnya dibalai desa yang tak jauh dari rumahku. Aku menuju balai desa dengan menaiki sepeda onthel kesayanganku. Sesampainya dibalai aku kaget, karena balai tampak sepi nggak ada kegiatan apa-apa.

Betapa bingungnya aku dengan kondisi seperti itu. Lalu kuputuskan lagi untuk mencari istriku kerumah Bu Yanti, biasanya sih Bu yanti itu yang suka ngumpulin ibu-ibu arisan. Aku menuju rumahnya dengan perasaan gelisah, sesampainya dirumah ibu Yanti, kulihat Bu Yanti sedang menyapu halaman rumahnya yang tampak kotor karena pohon rambutan didepan rumahnya banyak menjatuhkkan daun-daunya, lalu kusapa Bu Yanti yang masih sibuk dengan daun-daun yang berserakan itu “selamat sore Bu Yanti?” Bu Yanti tampak terkejut melihat keberadaanku, lalu Bu Yanti menjawab
“sore mas Wage, ada apa?”
“begini Bu, aku lagi nyari Susi?”
“istrimu to?”
“betul bu, apa ibu tau? Apalagi kata istriku mau datang ke acara arisanya ibu-ibu, begitu bu”
“lho, Ibu-ibu enggak ada acara arisan mas, acara arisannya masih besok. Tadi aku lihat istrimu jalan kearah sana mas, mungkin ada janji sama temannya”
Sambil menunjukan lokasi dimana Bu yanti sempat melihatnya dengan tanganya, tiba-tiba sebuah mobil honda jaz putih berhenti dilokasi yang ditunjukan Bu Yanti, aku sangat terkejut melihat kejadian itu, apalagi ketika cowok yang mengendarai mobil itu membukakan pintu sebelah kanan mobilnya dan yang keluar ternyata istriku.

Aku menghampiri istriku dengan segenggam emosi yang meledak-ledak, istriku lebih tampak kaget melihat keberadaanku apalagi si cowok yang bersama istriku hanya bisa diam. Aku dengan segera menampar istriku, istriku menangis karena tamparanku.
“mas, sakit”
“itu tak sebanding dengan tingkahmu yang membohongiku serta menghianatiku”
“maafin aku mas, aku enggak kuat hidup sengsara terus sama mas, enam bulan kita menikah, tapi mas belum juga dapet kerjaan tetap”
“apa dengan harta kamu mengukur semuanya ini istriku?”
“maafin aku mas! Maafin aku, aku sudah mencintai laki-laki lain lagi mas”
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara istriku “mas mas bangun! Udah sore lho” suara istriku itu membuatku bangun dari tidurku, sambil ngelus dadaku aku berkata “hah cuma mimpi” syukurlah cuma mimpi. Istriku tampak bingung, istriku bertanya “mas ngimpi apa?” aku menjawab sambil memeluk istriku “aku mimpi kehilangan kamu, dan kamu mencintai laki-laki lain. Aku mencintaimu. Jangan ninggalin aku ya dek!” istriku menjawab dengan lembut “mas ini ada-ada saja, ya enggaklah, aku juga cinta sama mas wage”.

No comments:

Post a Comment