Dendam
oleh :
Erato Dido Evandra
Jadikan dirimu menjadi pribadi yang penuh
kasih,
karena sekali saja membuat luka terhadap
orang lain,
terlebih orang yang disayangi pasti hanya
menimbulkan konflik yang mengabadi.
Dan perlu kita sadari “memaafkan memang
mudah, tapi tidak dengan melupakan”.
Hujan mengguyur kota kediri begitu
lama. Kudengar petir bersaut-sautan melontarkan suara yang keras. Dan tak
jarang jantungku berdatak kencang...
Aku teringat kau, bapaku, bukan, aku
mengingatmu moster. Moster memang tidak memiliki hati.
Petir ini tak ubahnya kau, kau yang
telah menghianati keluargamu. Lebih tepatnya ibuku. Kau memang sangat tepat
bila kusebut moster, karena kau tidak memiliki hati seorang manusia.
Manusia itu harusnya baik. Karena tercipta
memiliki hati nurani.
Waktu itu, kau dengan suara yang
keras terus dan terus menghakimi ibuku dengan kata-kata yang tidak baik. Secara
verbal engkau mencaci, hah tak cukup itu saja. Kau juga jahat, dengan ototmu
kau hantam muka ibuku hingga memar. Aku masih ingat itu.
Memang aku waktu itu masih kecil,
polos, dan tidak mengerti apa-apa tentang permasalahan orang dewasa. Bejat kau
bapaku, itu yang kupahami saat ini.
Mengingat itu, membuatku
berkeringat meski sebenarnya udara dimalam hari ini sangat dingin. Dengan segala
amarahku, kugenggam tanganku dan kuhantamkan pada tembok kamarku. Iya, amarahku
itu berawal pertemuanku dengan moster jahanam itu tadi pagi.
Dia datang kerumah dengan membawa
anaknya juga istrinya.. oh lebih tepatnya pelacur yang telah merebut bapaku
dari ibuku. Hahahahaha tak kusangka anaknya banyak juga, dia itu ternak atau apa?
hahahaha
4 anaknya datang kerumah....
Awalnya aku tidak tahu siapa tamu
itu, karena memang saat aku dan ibuku berpisah dengan bapaku, saat itu aku
masih berusia sembilan tahun. Sedangkan saat ini aku berusia tujuh belas tahun,
delapan tahun lamanya aku telah berpisah dari moster itu...
Anaknya masih sangat kecil-kecil...
mungkin jarak antara anak-anakya antara satu sampai dua tahun saja. Yang lebih
sialnya dia mencium tangnku. Wow???? Andai aku tahu anak-anak ini anak dari
pelacur itu aku tak sudi dekat dengan anak itu.
Aku nggak tahu persis mengapa dia
datang kerumah dengan keluarga barunya itu....
Ah . . . cukup sudah aku nggak mau
membahas hal ini lagi....
Tiba-tiba...
Tok tok tok....
“Desi?? Sudah bubuk kamu nak?”
“Belum bu”
Ibu langsung membuka pintu dan
menghampiriku. Aku pun langsung memeluk ibuku..
“Mengapa mereka datang kerumah bu? Aku
benci mereka bu. Aku nggak suka mereka seenaknya datang kerumah setelah mereka
dengan seenaknya pergi dari kita bu”
“Anaku? Dengar ibu ya!”
“Mas Budi, bapakmu berkata pada ibu
mengapa dia datang kerumah. Katanya anak-anaknya ingin tahu seperti apa kakak
perempuannya itu”
“Tapi aku nggak mau mengakui mereka
sebagai adikku bu! Aku tidak mau! titik”.
“hmmmm Desi anaku, ibu tahu kamu
marah terhadap bapakmu, tapi jangan lah kamu juga menyimpan kebencian terhadap
adik-adikmu!”
“Tapi dia bukan adiku bu! Aku enggak
mau mengakui mereka sebagai adiku”
“Darah yang ada ditubuhnya sama
dengan darah yang mengalir di adik-adikmu, kamu harus ingat akan hal itu”.
***
Pagi menjemput, embun pagi yang
sejuk sebagai pengantar indahnya hari ini. Hari minggu yang indah. Aku masih
ingin bermalas-malasan dikamar, karena memang tidak ada aktifitas hari ini. Sekolah
pun libur.
Sesekali kupermainkan Haandphone
ku, dan kulihat hari ini masih pukul 07.00 WIB.
Tiba-tiba..
Tok tok tok...
“kak kakak?”
Siapa ya itu? pikirku. Seperti suara
anak kecil. Jangan-jangan???? Aku melangkah menghampiri pintu dan aku buka
pintu kamarku, kulihat 4 anak kecil. Hah dan aku tahu ini anak si pelacur
itu...
Aku hanya diam saja, sambil
memperhatikan anak-anak ini, dan sesekali memegang wajahku... oh benar saja
memang ada beberapa kemiripan di antara kami. Sial kenapa hatiku jadi luluh
gini!.
“Kak kenapa bengong?”
“Ya, apa?” dengan terbata-bata aku
menjawab pertanyaan anak-anak kecil yang lugu ini.
“Kak kami adik-adikmu”
Begitulah kata anak tertua, mungkin
usianya sekitar tujuh tahun. Dan mereka pun mengenalkan masing-masing nama-nama
mereka.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya
Rio, dan ini adik-adiku, Dina, Puji, serta Bagas. Kak? ayo turun ke bawah! Disana
ada bapak dan ibu lho? Ayo kak!”
Entah mengapa aku menurut saja
dengan yang mereka katakan, aku dan mereka pun turun menghampiri bapak dan ibu.
“Desi? Kamu semakin cantik nak!”
Begitulah kata moster itu padaku.
“Hah itu karena ibuku dengan tanganya
telah membesarkanku”
“Desi? Maafkan bapak ya!”
“Kenapa aku harus memafkan orang
yang telah mencampakkan keluarganya sendiri demi orang lain?”
“Desi? Kamu nggak mengerti
permasalahan yang membuat kita tercerai berai begini”
“Apa yang nggak aku pahami? Aku sudah
cukup memahami kebusukanmu!”
Tiba-tiba...
“Cukup!!!”
Ibuku dengan marah membentak
padaku. Dan dengan cepat memegang tanganku serta membawaku ke ruang tengah.
“Pertama jaga kata-katamu! Disini ada
adik-adikmu yang masih kecil! Kedua dia tetap bapakmu Desi!!!”
“Tapi bu?”
“Enggak ada tapi-tapian anaku,
semua sudah terjadi. Kita tidak bisa terus menerus memendam dendam begitu
lama... apa yang bisa kamu perbuat dengan memaki bapakmu? Jawab? Ibu sudah
lelah anaku! Ibu pun juga sudah memaafkan bapakmu, itu juga semua karena kamu
anaku. Walau bagaimanapun kamu lahir karena cinta ibu dan bapakmu, dan setiap
ak melihatmu aku juga melihat bapakmu, itulah alasan mengapa ibu sanggup
memaafkan bapakmu.
Aku melihat bapak datang kepadaku,
dan tiba-tiba memeluku sambil meminta maaf.
“Mungkin kita tidak bisa berkumpul
seperti dulu, tapi ikatan darah selamanya akan tetap bersatu anaku, kamu tetap
anaku, dan atas nama cinta kamu ada di dunia dan menjadi putriku. Aku juga
sangat berterimakasih pada ibumu karena sudah melahirkan anak secantik dirimu”.
Aku tidak bisa berkata apa-apa,
mungkin aku harus belajar memaafkan seperti yang ibuku ajarkan. Tapi tetap
melupakan itu sulit bagiku. Semoga dengan apa yang terjadi pada keluarga dan
hidupku, aku terdidik untuk lebih dewasa dan mencintai keluargaku.
“Sekali lagi ak minta maaf anaku”.
