(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)

Thursday, December 27, 2012

Cerpen: Dendam


Dendam
oleh :
Erato Dido Evandra

Jadikan dirimu menjadi pribadi yang penuh kasih,
karena sekali saja membuat luka terhadap orang lain,
terlebih orang yang disayangi pasti hanya menimbulkan konflik yang mengabadi.
Dan perlu kita sadari “memaafkan memang mudah, tapi tidak dengan melupakan”.
Hujan mengguyur kota kediri begitu lama. Kudengar petir bersaut-sautan melontarkan suara yang keras. Dan tak jarang jantungku berdatak kencang...

Aku teringat kau, bapaku, bukan, aku mengingatmu moster. Moster memang tidak memiliki hati.

Petir ini tak ubahnya kau, kau yang telah menghianati keluargamu. Lebih tepatnya ibuku. Kau memang sangat tepat bila kusebut moster, karena kau tidak memiliki hati seorang manusia.

Manusia itu harusnya baik. Karena tercipta memiliki hati nurani.

Waktu itu, kau dengan suara yang keras terus dan terus menghakimi ibuku dengan kata-kata yang tidak baik. Secara verbal engkau mencaci, hah tak cukup itu saja. Kau juga jahat, dengan ototmu kau hantam muka ibuku hingga memar. Aku masih ingat itu.

Memang aku waktu itu masih kecil, polos, dan tidak mengerti apa-apa tentang permasalahan orang dewasa. Bejat kau bapaku, itu yang kupahami saat ini.

Mengingat itu, membuatku berkeringat meski sebenarnya udara dimalam hari ini sangat dingin. Dengan segala amarahku, kugenggam tanganku dan kuhantamkan pada tembok kamarku. Iya, amarahku itu berawal pertemuanku dengan moster jahanam itu tadi pagi.

Dia datang kerumah dengan membawa anaknya juga istrinya.. oh lebih tepatnya pelacur yang telah merebut bapaku dari ibuku. Hahahahaha tak kusangka anaknya banyak juga, dia itu ternak atau apa? hahahaha

4 anaknya datang kerumah....

Awalnya aku tidak tahu siapa tamu itu, karena memang saat aku dan ibuku berpisah dengan bapaku, saat itu aku masih berusia sembilan tahun. Sedangkan saat ini aku berusia tujuh belas tahun, delapan tahun lamanya aku telah berpisah dari moster itu...

Anaknya masih sangat kecil-kecil... mungkin jarak antara anak-anakya antara satu sampai dua tahun saja. Yang lebih sialnya dia mencium tangnku. Wow???? Andai aku tahu anak-anak ini anak dari pelacur itu aku tak sudi dekat dengan anak itu.

Aku nggak tahu persis mengapa dia datang kerumah dengan keluarga barunya itu....

Ah . . . cukup sudah aku nggak mau membahas hal ini lagi....

Tiba-tiba...
Tok tok tok....
“Desi?? Sudah bubuk kamu nak?”
“Belum bu”
Ibu langsung membuka pintu dan menghampiriku. Aku pun langsung memeluk ibuku..
“Mengapa mereka datang kerumah bu? Aku benci mereka bu. Aku nggak suka mereka seenaknya datang kerumah setelah mereka dengan seenaknya pergi dari kita bu”
“Anaku? Dengar ibu ya!”
“Mas Budi, bapakmu berkata pada ibu mengapa dia datang kerumah. Katanya anak-anaknya ingin tahu seperti apa kakak perempuannya itu”
“Tapi aku nggak mau mengakui mereka sebagai adikku bu! Aku tidak mau! titik”.
“hmmmm Desi anaku, ibu tahu kamu marah terhadap bapakmu, tapi jangan lah kamu juga menyimpan kebencian terhadap adik-adikmu!”
“Tapi dia bukan adiku bu! Aku enggak mau mengakui mereka sebagai adiku”
“Darah yang ada ditubuhnya sama dengan darah yang mengalir di adik-adikmu, kamu harus ingat akan hal itu”.
***

Pagi menjemput, embun pagi yang sejuk sebagai pengantar indahnya hari ini. Hari minggu yang indah. Aku masih ingin bermalas-malasan dikamar, karena memang tidak ada aktifitas hari ini. Sekolah pun libur.

Sesekali kupermainkan Haandphone ku, dan kulihat hari ini masih pukul 07.00 WIB.

Tiba-tiba..
Tok tok tok...
“kak kakak?”

Siapa ya itu? pikirku. Seperti suara anak kecil. Jangan-jangan???? Aku melangkah menghampiri pintu dan aku buka pintu kamarku, kulihat 4 anak kecil. Hah dan aku tahu ini anak si pelacur itu...

Aku hanya diam saja, sambil memperhatikan anak-anak ini, dan sesekali memegang wajahku... oh benar saja memang ada beberapa kemiripan di antara kami. Sial kenapa hatiku jadi luluh gini!.

“Kak kenapa bengong?”
“Ya, apa?” dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaan anak-anak kecil yang lugu ini.
“Kak kami adik-adikmu”
Begitulah kata anak tertua, mungkin usianya sekitar tujuh tahun. Dan mereka pun mengenalkan masing-masing nama-nama mereka.

“Sebelumnya perkenalkan nama saya Rio, dan ini adik-adiku, Dina, Puji, serta Bagas. Kak? ayo turun ke bawah! Disana ada bapak dan ibu lho? Ayo kak!”

Entah mengapa aku menurut saja dengan yang mereka katakan, aku dan mereka pun turun menghampiri bapak dan ibu.

“Desi? Kamu semakin cantik nak!”
Begitulah kata moster itu padaku.
“Hah itu karena ibuku dengan tanganya telah membesarkanku”
“Desi? Maafkan bapak ya!”
“Kenapa aku harus memafkan orang yang telah mencampakkan keluarganya sendiri demi orang lain?”
“Desi? Kamu nggak mengerti permasalahan yang membuat kita tercerai berai begini”
“Apa yang nggak aku pahami? Aku sudah cukup memahami kebusukanmu!”

Tiba-tiba...
“Cukup!!!”
Ibuku dengan marah membentak padaku. Dan dengan cepat memegang tanganku serta membawaku ke ruang tengah.

“Pertama jaga kata-katamu! Disini ada adik-adikmu yang masih kecil! Kedua dia tetap bapakmu Desi!!!”
“Tapi bu?”
“Enggak ada tapi-tapian anaku, semua sudah terjadi. Kita tidak bisa terus menerus memendam dendam begitu lama... apa yang bisa kamu perbuat dengan memaki bapakmu? Jawab? Ibu sudah lelah anaku! Ibu pun juga sudah memaafkan bapakmu, itu juga semua karena kamu anaku. Walau bagaimanapun kamu lahir karena cinta ibu dan bapakmu, dan setiap ak melihatmu aku juga melihat bapakmu, itulah alasan mengapa ibu sanggup memaafkan bapakmu.

Aku melihat bapak datang kepadaku, dan tiba-tiba memeluku sambil meminta maaf.

“Mungkin kita tidak bisa berkumpul seperti dulu, tapi ikatan darah selamanya akan tetap bersatu anaku, kamu tetap anaku, dan atas nama cinta kamu ada di dunia dan menjadi putriku. Aku juga sangat berterimakasih pada ibumu karena sudah melahirkan anak secantik dirimu”.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, mungkin aku harus belajar memaafkan seperti yang ibuku ajarkan. Tapi tetap melupakan itu sulit bagiku. Semoga dengan apa yang terjadi pada keluarga dan hidupku, aku terdidik untuk lebih dewasa dan mencintai keluargaku.

“Sekali lagi ak minta maaf anaku”.

Tuesday, December 4, 2012

Natal 2013

Sebuah puisi untuk bulan kedamaian di bulan desember.. 
Selamat hari natal 2013.
___________________________________________________

Hari demi hari telah terlewati
Banyak perkara hinggap dihati
Entah itu sukacita,
Maupun luka.

Sebelas bulan telah berlalu,
Dan kini telah datang bulan keselamatan.
Tiada lagi kesedihan,
Semua bersukacita.

Bulan ini semakin mengingatkan kami tentang Engkau,
Yesus Kristus, dengan kedatanganMu,
Kami Engkau tuntun ke jalan yang benar,
Engkau mengajarkan apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Kami ingin lahir baru menjadi pribadi baru,
Pribadi yang semakin takut akan Engkau,
Bimbinglah kami Yesus. Tuhan Yang Maha Kasih.

Kedamaian itu semakin melekat pada umat percaya,
Karena natal adalah wujud kasih Allah pada manusia.
Natal untuk semua umat percaya,
Yesus mengasihi kita semua.
Selamat hari Natal, dan lahir menjadi pribadi yang baru.

-ERATO DIDO EVANDRA-