Seberapa miskinnya sesorang, bila dia mempunyai keluarga, dia bisa disebut orang kaya.
karena itu jangan pernah menghianati atau bahkan meninggalkan keluargamu, kalau kamu tak mau disebut miskin (cinta dan kasih sayang).
--------------------------------------------------------------
Semenjak aku ditinggalkan istriku, lima tahun yang lalu dengan laki-laki lain, istriku tak pernah menampakan batang hidungnya sampai hari ini. Yang tersisa dari pernikahan kami hanyalah buah hati kami namanya soekarno, anaku yang sering dipanggil dengan sebutan karno. Aku menamai soekarno agar kelak anaku bisa menjadi pemimpin. Itulah harapanku. Terlebih aku berharap kelak dia bisa memimpin keluarganya jauh lebih baik dari aku, bapaknya.
Waktu itu anaku masih berumur 10 tahun, yah meskipun belum mengerti perpisahan kami, kadangkala anaku menanyakan keberadaan ibunya, aku bingung mau menjawab apa, tapi yasudahlah kujelaskan apa adanya, aku yakin ketika anaku dewasa akan mengerti dengan sendirinya. Jujur aku sangat rindu dengan istriku itu, meskipun dia sudah menghianatiku, aku masih cinta pada istriku itu. Karena itulah sampai saat ini aku masih sendiri dan tak menikah lagi.
Namaku Jumiran, sedangkan istriku yang meninggalkan aku namanya Nyamiatun. aku bekerja sebagai sopir dari pedagang kaya raya dikota ini namanya bos Kasno. Aku menikmati pekerjaan ini, apalagi bosku itu orangnya sangat baik. Yah meskipun dengan gaji yang pas-pasan.
Saat ini anaku sudah berumur 15 tahun, dan sekarang duduk dibangku SMA kelas 1. aku membesarkanya sendiri, tentu aku sangat menyayangi anaku itu. Karena hanya anaku itulah semangat didalam hidupku.
Pagi ini ketika pukul 06.30 WIB, aku dan anaku sedang menyantap makanan sarapan pagi kami. Karena anaku akan pergi kesekolah sedangkan aku harus segera kerumah bosku. Kunikmati detik demi detik kebersamaan ini bersama anaku tercinta, tanpa kusadari dan tak pernah kuduga anaku bertanya lagi soal ibunya, katanya “aku kangen sama ibu, pak? Dimana ibu sekarang ya pak? Kenapa ibu meninggalkan kita?” mendengar pertanyaan anaku sejenak aku hanya bisa diam, aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan anaku itu, lalu aku hanya bisa berkata, “berdoalah, kelak ibumu akan menemui kita, terutama kamu anaku, karena ikatan darah tak mungkin bisa terputus”.
Lagi-lagi aku mulai memikirkan istriku kembali, meskipun sesungguhnya dia tak pantas sedikitpun aku pikirkan. Tapi ini mengenai hati aku sudah terlanjur cinta pada istriku itu, aku hanya bisa berdoa dan berharap kelak dia kembali, meskipun bukan untuku aku rela, tapi harapanku kembalilah untuk memeluk anak kita, yang teramat merindukanmu, istriku.
Aku mendapat perintah dari bosku untuk mengantarnya pergi keluar kota, tentu karena urusan bisnis dagangnya.
Siang ini juga ternyata aku harus mengantarnya, lalu aku minta izin pulang terlebih dahulu, aku harus bilang pada anaku. Karena tampaknya aku akan lama ke luar kotanya. Sekitar satu minggu lamanya.
***
Jam 6 sore aku sampai dikota itu, aku diajak bosku untuk istirahat sejenak disebuah warung kopi dipinggir jalan raya. Aku memandang kota ini, dan tampak begitu indah, pemandangan kota ini benar-benar cantik begitu juga wanita malam yang jalan mondar-mandir ditrotoar jalan ini. Tanpa kusadari kulihat seorang wanita dengan dandanan yang sangat cantik juga seksi, kupandang lagi, dia tampak tak asing bagiku, sepertinya aku pernah mengenalnya, lalu aku mencoba melangkah perlahan mendekatinya kira-kira jaraknya 15 meter, ketika semakin dekat dengan dia aku terkejut, kakiku gemetar karena yang kulihat itu istriku yang sudah lima tahun menghilang atau yang lebih tepat meninggalkan aku. Lalu aku memanggilnya “Nyamiatun, ingatkah kamu pada Soekarno anak kita?” mendengar perkataanku itu Nyamiatunpun tampak ikut terkejut, mungkin dia kaget karena yang berada dihadapanya itu aku, suami yang ditinggalkan demi laki-laki lain. Lalu Nyamiatun menghampiriku dan bersujut dikakiku, menangis, dan memeluk kakiku.
“mas? Maafin aku!”
“kenapa kamu meninggalkan aku dan anak kita demi laki-laki lain?”
“aku minta maaf mas? Aku salah, aku tertipu sama laki-laki yang telah menggodaku dulu”
“Nyamiatun, asal kamu tau, Karno sangat kangen sama kamu? dimana laki-laki yang membawamu kabur dariku itu?”
“dia menjualku pada germo dikota ini, aku dipaksa melacur mas, aku menyesal”
“Nyamiatun, Nyamiatun, kamu itu rela meninggalkan keluargamu Cuma demi ini? Kamu telah terbuai cinta sesaat yang membutakan mata hati kamu ”
“aku menyesal mas”
“jadikan ini pelajaran yang berharga buatmu! Hargailah orang-orang yang menyanyangi dan mencintai kamu terutama keluargamu karena itu sangat mahal harganya”.
Setelah perbincangan cukup lama dengan istriku aku menghampiri bosku yang tampak bingung dengan keberdaanku yang nggak ada disampinya. Lalu aku menceritakan semua yang terjadi pada bosku. Bosku bisa menerimanya ketika aku mohon izin untuk ikut membawa istriku juga dalam perjalanan bisnisnya. Mungkin karena bosku sendiri orangnya baik juga dia sudah mendengar tentang peristiwa yang terjadi pada keluargaku lima tahun yang lalu, maklumlah bosku itu tetanggaku sendiri, beliau juga punya sikap dermawan dan bersosialisasi tinggi dengan tetangga-tetangganya.
Satu minggu sudah berlalu, kami pun kembali pulang, meskipun aku sendiri sulit memaafkan istriku, tapi aku harus bisa berbesar hati, karena ada Karno. Dialah anaku yang membuatku bisa memaafkan istriku dan memulainya dari awal lagi. Membangun keluarga yang lebih baik.
Ketika aku mengajak istriku kerumah. Anaku membukakan pintu, anaku tampak bingung atau mungkin lupa dengan siapa yang dilihat dihadapannya. Tiba-tiba istriku menangis serta memeluk Karno. Tapi Karno melepaskan pelukan Nyamiatun
“siapa kamu?”
“aku ibumu nak?”
“apa Karno lupa sama ibu?”
“apa benar kamu ibuku? Kenapa meninggalkan kami?”
“maafin ibu nak! Ibu menyesal dan mengaku salah”
“ibu tau, betapa kangennya aku sama ibu? Kenapa ibu tak pernah kembali menemui kami”
“maafin ibu nak! Kalau Karno mau memaafkan ibu, ibu janji akan memperbaiki semuanya dan nggak lagi meninggalkan karno dan mas Jumiran”
Mendengar perbincangan anaku dan istriku, aku ikut terharu, meskipun aku merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap istriku. Aku hanya berharap istriku tak akan terbuai lagi dengan cinta sesaat karena sebenarnya itu hanya semu belaka. Serta istriku tak lagi meninggalkan aku dan anaku. Aku akan membangun keluargaku kembali lebih hangat dan aku akan berusaha untuk lebih menjaganya.
Lalu aku memeluk mereka berdua. aku melihat mereka berdua masih menangis tersedu-sedu, aku mendengar anaku berbicara dengan lirih “aku kangen sama ibu, ibu jangan lagi ninggalin kami ya!”.

No comments:
Post a Comment