Bukan pelangi sehabis hujan tapi air bah
oleh : Erato Dido Evandra, Agustus 2011
Menikam punggung yang tak pantas tersakiti
Dari sudut sempit dia tersenyum diantara luka yang diperbuatnya
Mengakibatkan derita yang menyakitkan
Bak terbunuh hanya tak mati
Bak terbunuh hanya tak mati
Sekarat, tangannya sekalipun tak menyambutnya
Tidak seperti janjinya dan oratornya
Haaaah dasar pelupa dan tak tahu diri
Lelah sudah suara terombang-ambing dilangit gedung wakil rakyat
Meneriakan keadilan dari dosa yang terpelihara
Suara hati yang menuntut kehidupan layak
Tapi wakil rakyat ternyata masih tuli
Lebih suka mengeksekusi tumpukan rupiah rakyat
Dari pada mengembalikan senyum sang rakyat yang terluka
Ini sedikit rintihan dan tuntutan kami:
Jatuh, kami minta kau bangunkan kami
Lemah, kami minta kau kuatkan kami
Susah, kami minta bahagiakan kami
Miskin, kami minta jangan kau korupsi uang kami
Atas nama rakyat yang tertindas:
Jadilah wakil rakyat yang bijak nan terhormat.

No comments:
Post a Comment