Oleh : Erato Dido Evandra, Juni 2011
Kupersembahkan :
Untuk para pahlawan Devisa Negara (Tenaga Kerja Indonesia/TKI).
Aku ikut merasa prihatin mendengar, melihat, dan merasakan TKI yang teraniaya dinegeri orang. Terlebih tanpa perlindungan dari Negara kita.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Tiga tahun sudah semenjak ibuku meninggalkan aku untuk bekerja sebagai TKI di Arab Saudi, nyaris komunikasi kami tak berjalan dengan baik. Surat yang aku kirim ke Ibuku jarang sekali mendapat balasan.
Jujur aku sangat merindukan Ibuku. Tapi aku tak pernah tau kapan ibuku akan pulang menemui aku dan bapaku yang saat ini sedang sakit.
Aku pernah mengirim surat ke Ibuku yang isinya memberitahukan kalau Bapak saat ini sedang sakit-sakitan. Tapi surat itu tak pernah mendapatkan balasan sampai sekarang. Aku sangat bingung, aku enggak tau harus berbuat apa. Aku Cuma bisa pasrah dengan keadaan ini. Apalagi aku yang masih terlalu muda untuk mengerti semua ini. Aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP.
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan surat yang diantar pak pos kerumahku, setelah kulihat ternyata ini surat dari Ibuku. Betapa bahagianya aku menerima surat dari Ibuku ini. Lalu perlahan aku baca surat ini. Sengaja surat ini aku baca sendiri dan nanti akan aku beritahukan ke bapak tentang kabar bahagia ini. Tapi isi surat ini tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
“Untuk Anak dan Suamiku
Bagaimana kabarmu anaku? Dan juga bagaimana kabar Bapakm u? Apa Bapakmu sudah membaik kondisi kesehatannya?
Maaf ibu baru bisa membalas sekarang, Ibu tidak pernah punya kesempatan untuk bisa mengirim surat. Sebenarnya Ibu tak mau menceritakan ini ke kamu anaku. Tapi Ibu percaya sama kamu anaku. setelah membaca surat ini, Ibu minta kamu melaporkan apa yang Ibu tulis ini ke PT Anugerah, dimana Ibu dulu melalui perusahaan itu ibu diberangkatkan menjadi TKI di Arab Saudi.
Ibu disini membutuhkan pertolongan anaku, ibu disiksa dan tidak mendapatkan gaji, karena itu ibu dalam beberapa bulan terakir tidak bisa mengirim uang ke kamu anaku. Bahkan untuk mengirim surat pun sangat sulit.
Rasanya cukup sekian dulu ya anaku. Ibu kangen sama kamu dan juga bapakmu. Salam ya buat bapakmu! Semoga Bapak cepat sembuh dan semoga kita bisa secepatnya berkumpul seperti dulu lgi.
Love you
Ibumu”
Aku membaca surat itu dengan perasaan yang carut marut, aku enggak tau harus berbuat apa. Aku hanya menuruti apa yang dikatakan ibu seperti yang ada disurat yang Ibu tulis. Aku akan melaporkan ke Perusahan yang mengirim Ibuku menjadi TKI ke Arab.
Aku bergegas menuju kantor PT. Anugerah, sesampainya aku disana aku melaporkan seperti apa yang tertulis dari surat Ibuku, sambil aku menunjukan surat yang aku bawa ini kepada orang yang duduk dikursi empuk didepanku itu yang sedang memainkan leptop dengan gaya. tertulis dimejanya Manager.
“Pak, aku anak dari Ibu Yati, TKI yang ada di Arab”
“Ada apa? Ada masalah?”
“Betul Pak, Ibu disana disiksa, ini surat dari Ibuku”
Sambil memberikan surat dari Ibuku ke Bapak Manager itu, Bapak itu membacanya. Meskipun aku juga enggak tau apa surat itu benar-benar dibaca. Tiba-tiba bapak itu berkata “iya, akan segera aku urus. Kamu pulang saja, nanti aku akan memberitahukan hasilnya.”
“Trimakasih pak” jawabku.
Aku pulang. Meskipun bukan sebuah kepuasan yang aku dapat, tapi paling enggak aku sudah berbuat yang aku bisa untuk menolong Ibuku.
Beberapa minggu aku menunggu kabar dari PT. Anugerah, tapi enggak pernah ada kabar. Aku semakin bingung dengan kondisi ini. Apalagi kondisi bapak yang sakit-sakitan. Aku enggak tau harus berbuat apa.
Aku duduk diteras rumah dengan meminum segelas teh yang kubuat sendiri sambil memikirkan persoalan Ibuku itu. Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang kerumah.
“Apa benar ini rumah Ibu Yati?”
“Iya benar”
“Ini ada surat dari KBRI di Arab yang dikirim lewat PT. Anugerah”
“Terimakasih pak”
Lalu aku membaca surat ini, dan berharap isinya adalah sebuah kabar baik. Lagi-lagi tak seperti yang aku harapkan. Dari surat ini aku mendapat kabar kalau Ibuku meninggal dunia di Negeri orang, yaitu Negeri Arab Saudi.
Aku bingung harus berbuat apa, aku langsung lari kekamar Bapaku, dan aku memeluk Bapaku dan memberitahukan apa yang sedang terjadi. Sesungguhnya aku tak ingin memberitahukan hal ini keBapak dengan kondisi kesehatan yang bapak alami. Tapi aku tak sanggup. Bapak meneteskan airmata. Yang membuatku semakin sedih.
Mimpi untuk kembali bersama sirna sudah. Berita kematian Ibuku benar-benar telah menghancurkan aku atau bahkan keluargaku.
Lalu aku memberanikan diri untuk pergi sekali lagi kekantor PT. Anugerah, lagi aku ketemu Bapak manager itu.
“Pak, aku anak Bu yati, TKI dari Arab” kalimat yang sama seperti pertama kali aku kesini.
“Aku sudah dengar berita kematian Ibumu, aku ikut berduka”
“Lalu apa penyebap kematian Ibuku? Dan kapan Jenasah Ibuku dipulangkan?”
Bapak itu kuperhatikan hanya diam, lalu dengan tenangnya Bapak itu berkata “Iya, akan segera aku urus” hmmmmm kalimat ini rasanya sudah pernah kudengar sebelumnya.
Aku pulang dengan tangan hampa, tanpa informasi sedikitpun, hanya ocehan bapak Manager yang tak ada gunanya itu.
Tiga hari sudah berlalu. Tapi lagi-lagi tak ada kabar sedikitpun, aku marah, emosi, aku kembali lagi datang menghampiri kekantor bapak yang menyebalkan itu, aku berteriak didepan kantor itu dengan meneriakan “Pulangkan Jenasah Ibuku!!!!” berkali-kali aku meneriakan kata itu. Tak kusangka peristiwa yang dialami Ibuku terdengar sampai media masa. Akhirnya barulah PT. Anugerah berusaha menghubungi KBRI disana dan semua pihak saling bantu untuk memulangkan Jenasah Ibuku.
“kenapa harus terdengar media masa, baru semua pihak mendengar jeritan TKI yang yang menderita dinegeri orang” itulah yang ada dipikiranku.
Akhirnya aku bisa memakamkan Ibuku dinegeri sendiri. Sebagai anak aku sudah menyelesakan tanggungjawabku. Meskipun kesedihan masih menghantui hati dan pikiranku. Kehilangan Ibuku adalah kehancuran dari hatiku.
Tak lama kemudian aku mendengar kalau majikan Ibuku di Arab sana diadili dan dijatuhi hukuman pidana atas perbuatanya yang menyiksa Ibuku hingga meninggal dunia.
“Aku lega.”
Setiap orang dilengkapi kemampuan untuk produktif dan reseptif, hanya saja akan terasa indah jika kemampuan reseptif yang dimiliki kita aplikasikan dalam karya produktif. inilah yang saya lakukan, apa yang saya tangkap melalui panca indra saya aplikasikan dalam karya produktif melalui karya tulis.
(HENDAKLAH MENCANTUMKAN NAMA ADMIN "ERATO DIDO EVANDRA" DALAM BLOG INI JIKA MENGUTIP!, KARENA KARYA-KARYA DALAM BLOG INI MEMILIKI HAK CIPTA)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment